Antara Puasa dan Takwa
Antara Puasa dan Takwa
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al Baqarah : 183).
Dari firman Allah SWT di atas sering sekali kita
mendengar penjelasan dari ceramah-ceramah atau
pengajian bulan Ramadlan ini, bahwa salah satu
tujuan disyariatkan dan diwajibkannya puasa bagi
umat Islam adalah agar mereka bertakwa kepada
Allah SWT. Kata-kata takwa memang sangat
sering dan mudah dikatakan sekaligus sulit dan
jarang sekali direalisasikan secara hakiki dalam
kehidupan sehari-hari, bahkan di bulan yang penuh
berkah ini, terbukti dengan masih banyaknya
kejahatan yang terjadi, seakan tidak bisa terhenti.
Nilai atau kadar takwa manusia memang berbeda,
oleh sebab itulah Allah SWT
berfirman; "Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
takwa diantara kamu…" (QS. Al Hujurt : 13).
Dalam ayat ini Allah SWT seakan berkata; bahwa
kadar takwa kalian itu bertingkat-tingkat dan
berkelas-kelas, sedangkan yang paling mulia
menurutku adalah orang yang tingkat
ketakwaannya paling tinggi.
Muslim yang berpuasa itu sendiri sebenarnya
sudah berada dalam kelas atau tingkat ketakwaan
tertentu, sebab orang yang sama sekali tidak
mempunyai perasaan takwa tentu tidak akan mau
menahan lapar dan haus akibat berpuasa. Namun,
perasaan takwa yang menjadi tujuan puasa dalam
ayat di atas bukanlah sekedar berupa keinginan
untuk berpuasa disebabkan saya adalah seorang
muslim, maka sudah sepantasnya saya ikut-
ikutan berpuasa, takwa yang dimaksudkan juga
bukan perasaan yang mendorong kita untuk tidak
makan dan minum sampai matahari tenggelam
tanpa membawa sedikitpun perubahan ke arah
yang lebih baik, bukan itu.
Ketakwaan yang ingin diajarkan Allah SWT melalui
kewajiban berpuasa adalah peningkatan kadar
takut, tunduk, dan kesadaran yang semakin hari
semakin kuat dirasakan, ketakwaan itu adalah
keberhasilan seseorang naik kelas yang lebih
tinggi dalam menjalankan perintah Allah SWT dan
menjahui laranganNya. Oleh sebab itu, puasa
yang tidak bisa meningkatkan kadar ketakwaan
adalah puasa yang belum bisa menggapi hakikat
tujuan diwajibkannya puasa itu sendiri.
Bentuk takwa yang ingin digapai dengan berpuasa
bermacam-macam ketakwaan yang ingin dibentuk
Allah SWT melalui puasa bagi orang kaya adalah
agar mereka pernah merasakan penderitaan kaum
miskin sehingga menjadi lebih santun kepada
mereka, bagi orang miskin, puasa adalah
pembelajaran untuk tidak menjadikan dunia
sebagai satu-satunya tujuan hidup, bagi para
pejabat, puasa adalah menahan diri agar benar-
benar mengemban amanat rakyat selama mereka
menjabat, dan begitu seterusnya bagi yang lain.
Dengan puasa ini marilah kita selalu barusaha
meningkatkan ketakwaan kita, hari ini harus lebih
baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih
baik dari hari ini. Marilah kita lewati sepuluh hari
pertama bulan Ramadlan ini dengan membawa
rahmat Allah SWT untuk menyambut sepuluh hari
yang kedua dengan harapan bisa meraih magfirah
(ampunan)Nya, dan akhirnya, semoga kita bisa
menyempurnakan sepuluh hari terakhir dengan
selalu berharap mudah-mudahan pada hari raya
nanti kita termasuk orang-orang yang
mendapat ‘grasi’ Allah SWT, terbebas dari api
neraka. Amn.