Keberkahan Sahur
Keberkahan Sahur
Rasulullah SAW bersabda, "Sahur adalah
makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan
walaupun salah seorang dari kalian hanya
meneguk seteguk air, karena Allah dan para
malaikat bershalawat atas orang-orang yang
bersahur". (HR Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad).
Penjelasan: Ada dua kata kunci dalam hadits
tersebut, yaitu sahur dan keberkahan. Sahur
adalah "ritual" menyantap makanan saat
menjelang fajar dan sebelum subuh bagi orang-
orang yang akan menunaikan ibadah shaum.
Sahur termasuk salah satu amalan sunnah yang
dianjurkan (sunnah muakad).
Kata kedua adalah keberkahan. Apa yang
dimaksud dengan keberkahan atau berkah?
Menurut Ar-Raghib Al-Asfahanny, berkah berarti
tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu. Ibnul
Qayyim Al-Jauziyah mendefinisikan berkah
sebagai kenikmatan atau tambahan. Berkah pun,
masih menurut Ibnul Qayyim, mengandung hakikat
sebagai kebaikan yang banyak dan terus menerus
yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali
Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sedangkan Muhammad
bin Shalih Al-Utsaimin mengartikan berkah
sebagai kebaikan yang banyak dan tetap.
Dari makna-makna tersebut kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa berkah atau keberkahan adalah
suatu sifat yang di dalamnya mengandung
kebaikan. Berkah bisa berkaitan dengan perbuatan
atau ucapan, tempat, dan waktu. Sahur adalah
perkara yang setidaknya mengandung dua
keberkahan, yaitu keberkahan dalam hal
perbuatan dan keberkahan dalam hal waktu
pelaksanaan.
Berkaitan dengan keberkahan sahur sebagai
perbuatan, Rasulullah SAW bersabda: ”Dari Anas
bin Malik RA Rasulullah SAW bersabda, "Makan
sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu
terdapat keberkahan". Juga hadits dari Ahmad dan
An-Nasai, "Sesungguhnya dia (makan sahur)
adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian,
maka jangan kalian meninggalkannya."
Demikian utamanya sahur, sampai-sampai Rasul
menganjurkan kita untuk tidak meninggalkannya
walau hanya dengan seteguk air saja. "Jangan
kalian tinggalkan (sahur) walaupun salah seorang
dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena
Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-
orang yang bersahur".
Berkaitan dengan waktu, keberkahan sahur terjadi
karena dilakukan di sepertiga malam terakhir.
Inilah waktu mustajabnya doa; saat Allah
SWT "turun" ke bumi; dan saat orang-orang
beriman biasa melakukan Qiyamul Lail (QS Al-
Israa: 79). Bila dua keberkahan (perbuatan dan
waktu) menjadi satu, maka sangat rugi bila kita
mengabaikannya.
Lalu, bagaimana caranya agar sahur kita menjadi
maksimal? Intinya, kita harus menambah porsi
dzikir pada saat sahur dibanding porsi makanan
yang kita konsumsi. Karena itu, sangat dianjurkan
bila sebelum makan sahur kita berwudhu terlebih
dulu, shalat, berdoa, dan dzikir.
Bukankah Rasul pernah bersabda, "Rabb kita
Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke
langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
terakhir. Allah berfirman: ‘Siapa yang berdoa
kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa
yang minta kepada-Ku, Aku akan memberinya,
dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku
akan mengampuninya’." (HR Bukhari). Yang juga
harus diperhatikan, sahur bisa diakhirkan, jangan
berlebihan, dan setelah sahur jangan tidur lagi.
Wallahu a’lam bish-shawab.