Archive for September, 2005

Yang tak pernah puas !

Sunday, September 18th, 2005

Those words are very touchy, so beautiful, and
can
make you think that having positive thinking about
our life makes it more worth…..

Sebelum kamu mengeluh

1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata
yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat
berbicara sama sekali.

2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari
makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya
apapun untuk dimakan.

3. Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-
apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-
minta dijalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada
tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau
istri anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon
kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

6. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang
hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal
terlalu cepat

7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-
anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin
mempunyai anak tetapi dirinya mandul

8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu
yang kotor karena pembantumu tidak
mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal
dijalanan.

9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya
kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh
jarak yang sama dengan berjalan

10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang
pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang
cacat yang berharap mereka mempunyai
pekerjaan seperti anda.

11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan
menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak
berdosa.

12. Dan ketika kamu sedang bersedih dan
hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada
Tuhan bahwa kamu masih hidup

Life is a gift.

Live it…

Enjoy it…

Celebrate it…

And fulfill it.

13. Cintai orang lain dengan perkataan dan
perbuatanmu.

14. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan
atau disembunyikan.

15. Anda tidak mencintai seseorang karena
dia cantik atau tampan, Mereka cantik/tampan
karena anda mencintainya.

16. It’s true you don’t know what you’ve got
until it’s gone,
but it’s also true You don’t know what you’ve
been missing until it arrives!!!

———————————————————–
manusia punya hasrat, sudah menjadi fitrah tuk
memuaskan hasrat tersebut.. tapi pernahkah
terpikir bahwa segala sesuatunya sudah diatur
oleh 4JJ1, sehingga setiap orang mempunyai jalan
hidup yg berbeda2, punya kelebihan dan
kekurangan… intinya sih gak pernah PUAS !!! wajar
aja, selama itu masih dalam batas yg dibolehkan…
tapi SYUKUR yg seharusnya dilakukan setiap
manusia menerima nikmat seakan terlupakan
karena kita selalu mengukurnya dengan
membanding2kan dengan nikmat orang lain…

Manfaat Puasa Dari Segi Medik

Sunday, September 18th, 2005

Manfaat Puasa Dari Segi Medik

"… Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui." (QS. Al-Baqarah, 2 : 184). Ayat
tersebut mengisyaratkan kepada manusia bahwa
puasa mempunyai faedah bagi makhluk ciptaan-
Nya, karena Dia-lah yang paling tahu mengenai
anatomi tubuh dan kebutuhan tiap-tiap hamba-Nya.

Disadari bahwa sejak Syawal - Syaban (11 bulan)
organ-organ tubuh manusia telah bekerja keras
memproses makanan dan minuman yang
dikonsumsi tubuh, bahkan saat phisik tidurpun
fungsi pencernaan tubuh tidak serta merta ikut
tidur, mereka tetap bekerja, oleh karena itu untuk
suatu masa tertentu organ-organ itu perlu
disitirahkan. Istirahat itulah yang bernama "Puasa".
Sebagaimana halnya dengan pekerja yang harus
menjalani cuti tahunan 12 hari kerja selama
setahun. Menurut para ilmuwan, puasa adalah
terapi pengobatan alami paling tua, pengurangan
jumlah dan frekwensi makan menyebabkan liver
lebih aktif dan leluasa melakukan pembersihan atau
pembuangan racun (detoksifikasi) dari dalam
tubuh. Dengan berkurangnya racun dalam tubuh,
hal itu akan meningkatkan sirkulasi oksigen dan
nutrisi ke seluruh sel dan jaringan tubuh sehingga
sel bisa memperbaiki diri dan meningkatkan
fungsinya secara optimal. Lantas, bagaimana
terjadinya proses detoksifikasi selama puasa?.

Secara fisik, puasa mengistirahatkan organ-organ
yang berkaitan dengan pencernaan termasuk
lambung, usus, pankreas, empedu dan liver. Liver
adalah organ yang aktifitas metaboliknya paling
tinggi. Selain berfungsi sebagai gudang
penyimpanan dan distributor zat-zat makanan
yang diperlukan sel-sel tubuh kita, liver juga
mengendalikan keluar masuknya racun pada tubuh
kita. Secara bertahap dengan berkurangnya kalori
saat berpuasa, liver akan mengubah glikogen
(cadangan energi dari karbohidrat yang disimpan
oleh hati) menjadi glukosa dan energi. Dengan
berkurangnya jumlah glikogen karena puasa, maka
tubuh akan menggunakan protein dalam otot
sebagai penghasil glukosa dan energi dengan cara
mengubah protein menjadi asam amino lebih dulu.
Asam lemak digunakan paling akhir setelah energi
dari protein mulai menipis. Seperti protein, lemak
juga diubah dulu menjadi keton sebelum menjadi
energi yang dapat digunakan otak, proses ini
disebut ketosi. Pada puasa, ketosis merupakan
adaptasi tubuh untuk mencegah kekurangan
protein akibat pembakaran. (Anonim, 2003).

Untuk melakukan penghematan energi, tubuh
secara reflek mempertahankan diri dengan
melakukan pengurangan beban, yaitu mulai
melakukan pengurasan zat-zat bersifat racun
bahkan yang sudah jauh merasuk ke dalam sel-sel
tubuh yang paling dalam, dan juga ampas-ampas
metabolisme seperti timbunan lemak, sel-sel aus,
jaringan yang rusak, tumor dan berbagai bentuk
jaringan abnormal lainnya dengan mengaktifkan
organ-organ pembuangan. Proses ini disebut
otolisasi, dan biasanya mulai terjadi pada hari
ketiga. Dalam proses ini tubuh juga akan
menstimulasi dan mempercepat pertumbuhan sel-
sel baru, pada saat protein yang diperlukan
disintesa ulang (recycle) dari sel-sel yang sudah
aus. Dengan demikian kadar protein dalam darah
tetap konstan dan normal selama puasa. Racun-
racun dan ampas metabolisme yang tidak bisa
direcycle dibuang oleh organ-organ pembuangan.
Dalam proses ini, beberapa gejala pengeluaran
racun dapat terlihat seperti warna urine yang lebih
keruh, pengeluaran mukus atau lendir melalui
hidung (ingus), tenggorokan (riak) dan berlanjut
melalui usus besar. Dengan berkurangnya racun
dalam tubuh akan meningkatkan sirkulasi oksigen
dan nutrisi ke seluruh sel dan jaringan tubuh
sehingga sel bisa memperbaiki diri dan
meningkatkan fungsinya secara optimal.

Ternyata, Manusia Tidak Ada Apa-apanya

Friday, September 16th, 2005

Amukan gempa dan gelombang tsunami di
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera
Utara (Sumut) mestinya menyadarkan kita. Betapa
keadaan dapat berubah dalam waktu sekejap
menurut kehendak Allah Subhanahu wa Taala.

Akal kita tidak mampu mencerna bagaimana
peristiwa itu bisa terjadi dalam waktu begitu cepat.
Manusia disapu oleh gelombang tanpa memilih
bulu, ibarat kotoran yang tumpah dari bak sampah
lalu hanyut ke muara. Subhanallah.

Dulu, gelombang tsunami hanya menimpa Jepang
dan sekitarnya. Kini, gelombang yang mematikan
itu melebar sampai ke daerah-daerah seperti
Aceh, yang akhir-akhir ini memang selalu
dirundung duka. Peristiwa gelombang tsunami
adalah peristiwa yang sulit dianalisis sehingga
sangat tepat dijadikan pelajaran berharga.

Bukti Kekuasaan Allah
Untuk mengetahui bukti kekuasaan Allah, kita
tidak perlu jauh-jauh mencari. Apa yang ada pada
diri manusia sudah cukup. Manusia terbentuk dari
hasil pertemuan benih dari laki-laki (sperma)
dengan bibit dari perempuan (ovum). Prosesnya
untuk sampai ke tingkat terjadinya seorang
manusia, sangatlah rumit. Ia tersimpan dan
terproses dalam sebuah rahim yang dilengkapi
dengan plasenta. Dari alat itu, Allah menyalurkan
makanan bagi janin sampai pada usia yang siap
untuk lahir. Sebuah proses yang sangat sempurna.

Allah juga menciptakan bibit-bibit perwatakan dan
karakternya. Setelah lahir, orangtua hanya
bertugas memelihara dan menjaga demi lebih
sempurnanya bibit-bibit kehebatan yang
dimilikinya seperti kecerdasan, kegagahan,
kecantikan, dan lain-lain. Tidak mengherankan
kalau keberadaan seseorang dapat menunjukkan
kelebihan-kelebihan, karena di dalam dirinya
memang Allah telah menyiapkan potensi itu.

Seorang dapat menggemparkan dunia dengan
penemuannya. Penemuan itu dapat
mempermudah manusia melakukan pekerjaan
yang sebelumnya memerlukan waktu dan tenaga
yang banyak. Contohnya membuat komputer dan
telepon seluler. Juga membuat rumusan-rumusan
yang mempermudah orang merancang dan
mendesain bangunan, mesin, dan sebagainya.

Juga tidak sedikit orang yang berjaya dengan
kecantikan dan kegagahannya. Tampilan wajahnya
dipajang sebagai bintang iklan dan diminta menjadi
pemain sinetron. Dari bagian fisik lainnya,
misalnya kaki, pemain sepakbola terbaik dunia
tahun 2004, Ronaldinho, bisa memperoleh
penghasilan Rp 7 milyar per bulan. Ia bisa
membuatkan sebuah istana untuk ibunya. Ada
juga yang memanfaatkan potensi suara yang
merdu untuk meraih popularitas dan keuntungan
materi dengan menyanyi. Masih banyak lagi
contoh yang dapat dikemukakakan sebagai bukti
kehebatan potensi yang diberikan Allah kepada
manusia.

Allah juga pernah menciptakan manusia-manusia
yang punya kemampuan fisik luar biasa. Milsanya
Kaum Ad dan Tsamud yang mampu memahat
batu gunung yang begitu keras menjadi rumah
tempat tinggal yang lengkap dengan pintu, jendela,
dan kamar-kamarnya. Mereka juga mampu
membuat bendungan raksasa dengan
menggunakan batu-batu besar yang diangkat
dengan tangan. Sebagaimana firman Allah:

Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung
untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin. (Asy-
Syuaraa: 149)

Sosok manusia super lainnya yang pernah
mewarnai sejarah adalah Firaun. Kekuasaannya
luar biasa sampai ia sangat yakin bahwa dirinyalah
yang maha kuasa. Ia melihat, semua orang tunduk
di bawah telunjuknya dan merayap di hadapannya.

Ada pula nama Qarun. Dengan kekayaannya yang
melimpah, sebagaimana digambarkan di dalam Al-
Quran, kunci-kunci gudangnya saja tak mampu
digendong oleh seekor unta yang gemuk.

Haman, orang yang memiliki kepintaran
mengagumkan dan sangat mahir merancang
bangunan. Dia mampu meramal dan memprediksi
kejadian 1000 tahun mendatang. Dia pula yang
membangun pencakar langit pertama buat Firaun
untuk mencari Tuhan.

lanjutan dari artikel ini silahkan buka di web
www.ikhwan-muslim.tk

wassalam

Balasan Surga Bagi Wanita

Friday, September 16th, 2005

<META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT="0; URL=/ym/login?nojs=1">

var icjsdis = false;

.replbq{width:100%}

(this.offsetWidth-22)) this.Menu.Show();
else
{
if( parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
return doInstacomposeReply();

document.compose.REP.value = “1″;
if (self.name == “ymailmain”) {
parent.setReplyForwardKind(”");
}
document.compose.submit();
}
};

function ReplyMenu_Click()
{

var oLI = this.Sender.tagName == “LI” ? this.Sender : this.Sender.parentNode;
if(parseInt(oLI.value) == 0) document.compose.REP.value = “1″;
else document.compose.REPA.value = “1″;

if( parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
{
return document.compose.REPA.value == “1″ ? doInstacomposeReplyAll() : doInstacomposeReply();
}
if (self.name == “ymailmain”) {
parent.setReplyForwardKind(”");
}
document.compose.submit();
};

function doInstacomposeReply()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9507_0_58434_2636_3314_0_19086_10713_504195500_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7xuRVSCF3Nu6DRcjuoiODf53SJb11exgzz6m58XnUMbqtAQ4ahZJQphf_bVj7kOzIRn8-&inc=&Search=&Idx=101&YY=88640&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”
var b = document.showLetter.ICReplyBody.value;
if (b != “”) {
b = “\n— wrote:\n” + b;
}
parent.showCompose( b,
document.showLetter.ICReplyTo.value,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICReplySubj.value,
”,
‘Reply’,
urlExtras);
};

function doInstacomposeReplyAll()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9507_0_58434_2636_3314_0_19086_10713_504195500_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7xuRVSCF3Nu6DRcjuoiODf53SJb11exgzz6m58XnUMbqtAQ4ahZJQphf_bVj7kOzIRn8-&inc=&Search=&Idx=101&YY=88640&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”
var b = document.showLetter.ICReplyBody.value;
if (b != “”) {
b = “\n— wrote:\n” + b;
}
parent.showCompose( b,
document.showLetter.ICReplyAllTo.value,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICReplySubj.value,
document.showLetter.ICReplyAllCc.value,
‘Reply’,
urlExtras );

};

function doInstacomposeForward()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9507_0_58434_2636_3314_0_19086_10713_504195500_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7xuRVSCF3Nu6DRcjuoiODf53SJb11exgzz6m58XnUMbqtAQ4ahZJQphf_bVj7kOzIRn8-&inc=&Search=&Idx=101&YY=88640&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”

var b = document.showLetter.ICFwdBody.value;
b = “\n— wrote:\n” + b;

parent.showCompose(
b,
“”,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICFwdSubj.value,
“”,
‘Forward’,
urlExtras );

};

function Forward_Click()
{

ResetFields();
var oEvent = this.Event;
var nOffsetX = (oEvent.layerX) ? (oEvent.layerX) : oEvent.offsetX;

if(nOffsetX > (this.offsetWidth-22)) this.Menu.Show();
else
{
if( parent.showCompose
&& document.showLetter.ICOK.value == “1″
&& document.compose.fwopt.value == ‘quoted’ )
return doInstacomposeForward();

document.compose.FWD.value = “1″;
document.compose.submit();
}
};

function ForwardMenu_Click()
{

var oLI = this.Sender.tagName == “LI” ? this.Sender : this.Sender.parentNode;
document.compose.FWD.value = “1″;
document.compose.fwopt.value = (parseInt(oLI.value) == 0) ? ‘quoted’ : ‘attach’;

if( document.compose.fwopt.value == ‘quoted’
&& parent
&& parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
return doInstacomposeForward();

document.compose.submit();
};

function ResetFields()
{
document.compose.REP.value = ”;
document.compose.REPA.value = ”;
document.compose.FWD.value = ”;
}

function Delete_Click(p_oSender)
{
var oForm = p_oSender.form;
oForm.DEL.value = “Delete”;
oForm.submit();
};

//–>

<META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT="0; URL=/ym/login?nojs=1">

var icjsdis = false;

.replbq{width:100%}

(this.offsetWidth-22)) this.Menu.Show();
else
{
if( parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
return doInstacomposeReply();

document.compose.REP.value = “1″;
if (self.name == “ymailmain”) {
parent.setReplyForwardKind(”");
}
document.compose.submit();
}
};

function ReplyMenu_Click()
{

var oLI = this.Sender.tagName == “LI” ? this.Sender : this.Sender.parentNode;
if(parseInt(oLI.value) == 0) document.compose.REP.value = “1″;
else document.compose.REPA.value = “1″;

if( parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
{
return document.compose.REPA.value == “1″ ? doInstacomposeReplyAll() : doInstacomposeReply();
}
if (self.name == “ymailmain”) {
parent.setReplyForwardKind(”");
}
document.compose.submit();
};

function doInstacomposeReply()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9218_0_40144_2640_4938_0_19145_15959_2446974324_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7ye1RKd8RVFmgosO7KVCAQeWsP_FuAlFxVztGiUekcyVlCJ9VDPKOWd57dkjBPvwI9uk-&inc=&Search=&Idx=70&YY=99150&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”
var b = document.showLetter.ICReplyBody.value;
if (b != “”) {
b = “\n— wrote:\n” + b;
}
parent.showCompose( b,
document.showLetter.ICReplyTo.value,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICReplySubj.value,
”,
‘Reply’,
urlExtras);
};

function doInstacomposeReplyAll()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9218_0_40144_2640_4938_0_19145_15959_2446974324_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7ye1RKd8RVFmgosO7KVCAQeWsP_FuAlFxVztGiUekcyVlCJ9VDPKOWd57dkjBPvwI9uk-&inc=&Search=&Idx=70&YY=99150&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”
var b = document.showLetter.ICReplyBody.value;
if (b != “”) {
b = “\n— wrote:\n” + b;
}
parent.showCompose( b,
document.showLetter.ICReplyAllTo.value,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICReplySubj.value,
document.showLetter.ICReplyAllCc.value,
‘Reply’,
urlExtras );

};

function doInstacomposeForward()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9218_0_40144_2640_4938_0_19145_15959_2446974324_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7ye1RKd8RVFmgosO7KVCAQeWsP_FuAlFxVztGiUekcyVlCJ9VDPKOWd57dkjBPvwI9uk-&inc=&Search=&Idx=70&YY=99150&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”

var b = document.showLetter.ICFwdBody.value;
b = “\n— wrote:\n” + b;

parent.showCompose(
b,
“”,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICFwdSubj.value,
“”,
‘Forward’,
urlExtras );

};

function Forward_Click()
{

ResetFields();
var oEvent = this.Event;
var nOffsetX = (oEvent.layerX) ? (oEvent.layerX) : oEvent.offsetX;

if(nOffsetX > (this.offsetWidth-22)) this.Menu.Show();
else
{
if( parent.showCompose
&& document.showLetter.ICOK.value == “1″
&& document.compose.fwopt.value == ‘quoted’ )
return doInstacomposeForward();

document.compose.FWD.value = “1″;
document.compose.submit();
}
};

function ForwardMenu_Click()
{

var oLI = this.Sender.tagName == “LI” ? this.Sender : this.Sender.parentNode;
document.compose.FWD.value = “1″;
document.compose.fwopt.value = (parseInt(oLI.value) == 0) ? ‘quoted’ : ‘attach’;

if( document.compose.fwopt.value == ‘quoted’
&& parent
&& parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
return doInstacomposeForward();

document.compose.submit();
};

function ResetFields()
{
document.compose.REP.value = ”;
document.compose.REPA.value = ”;
document.compose.FWD.value = ”;
}

function Delete_Click(p_oSender)
{
var oForm = p_oSender.form;
oForm.DEL.value = “Delete”;
oForm.submit();
};

//–>

<META HTTP-EQUIV=Refresh CONTENT="0; URL=/ym/login?nojs=1">

var icjsdis = false;

.replbq{width:100%}

(this.offsetWidth-22)) this.Menu.Show();
else
{
if( parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
return doInstacomposeReply();

document.compose.REP.value = “1″;
if (self.name == “ymailmain”) {
parent.setReplyForwardKind(”");
}
document.compose.submit();
}
};

function ReplyMenu_Click()
{

var oLI = this.Sender.tagName == “LI” ? this.Sender : this.Sender.parentNode;
if(parseInt(oLI.value) == 0) document.compose.REP.value = “1″;
else document.compose.REPA.value = “1″;

if( parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
{
return document.compose.REPA.value == “1″ ? doInstacomposeReplyAll() : doInstacomposeReply();
}
if (self.name == “ymailmain”) {
parent.setReplyForwardKind(”");
}
document.compose.submit();
};

function doInstacomposeReply()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9218_0_40144_2640_4938_0_19145_15959_2446974324_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7ye1RKd8RVFmgosO7KVCAQeWsP_FuAlFxVztGiUekcyVlCJ9VDPKOWd57dkjBPvwI9uk-&inc=&Search=&Idx=70&YY=99150&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”
var b = document.showLetter.ICReplyBody.value;
if (b != “”) {
b = “\n— wrote:\n” + b;
}
parent.showCompose( b,
document.showLetter.ICReplyTo.value,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICReplySubj.value,
”,
‘Reply’,
urlExtras);
};

function doInstacomposeReplyAll()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9218_0_40144_2640_4938_0_19145_15959_2446974324_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7ye1RKd8RVFmgosO7KVCAQeWsP_FuAlFxVztGiUekcyVlCJ9VDPKOWd57dkjBPvwI9uk-&inc=&Search=&Idx=70&YY=99150&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”
var b = document.showLetter.ICReplyBody.value;
if (b != “”) {
b = “\n— wrote:\n” + b;
}
parent.showCompose( b,
document.showLetter.ICReplyAllTo.value,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICReplySubj.value,
document.showLetter.ICReplyAllCc.value,
‘Reply’,
urlExtras );

};

function doInstacomposeForward()
{
var urlExtras = “box=Inbox&Mid=9218_0_40144_2640_4938_0_19145_15959_2446974324_oSObkYn4Ur5HQVnr2mDutHh3hYW3C62I50w.gDCAQdmhM4emsbi5Uwv_kd.l2ctjFSEpAOMJ7jLWoYG.7P3E2Mx.AOx7ye1RKd8RVFmgosO7KVCAQeWsP_FuAlFxVztGiUekcyVlCJ9VDPKOWd57dkjBPvwI9uk-&inc=&Search=&Idx=70&YY=99150&order=down&sort=date&pos=0&view=a&head=b”

var b = document.showLetter.ICFwdBody.value;
b = “\n— wrote:\n” + b;

parent.showCompose(
b,
“”,
document.showLetter.FromAddress.value,
document.showLetter.ICFwdSubj.value,
“”,
‘Forward’,
urlExtras );

};

function Forward_Click()
{

ResetFields();
var oEvent = this.Event;
var nOffsetX = (oEvent.layerX) ? (oEvent.layerX) : oEvent.offsetX;

if(nOffsetX > (this.offsetWidth-22)) this.Menu.Show();
else
{
if( parent.showCompose
&& document.showLetter.ICOK.value == “1″
&& document.compose.fwopt.value == ‘quoted’ )
return doInstacomposeForward();

document.compose.FWD.value = “1″;
document.compose.submit();
}
};

function ForwardMenu_Click()
{

var oLI = this.Sender.tagName == “LI” ? this.Sender : this.Sender.parentNode;
document.compose.FWD.value = “1″;
document.compose.fwopt.value = (parseInt(oLI.value) == 0) ? ‘quoted’ : ‘attach’;

if( document.compose.fwopt.value == ‘quoted’
&& parent
&& parent.showCompose && document.showLetter.ICOK.value == “1″ )
return doInstacomposeForward();

document.compose.submit();
};

function ResetFields()
{
document.compose.REP.value = ”;
document.compose.REPA.value = ”;
document.compose.FWD.value = ”;
}

function Delete_Click(p_oSender)
{
var oForm = p_oSender.form;
oForm.DEL.value = “Delete”;
oForm.submit();
};

//–>Keadaan wanita di dunia ini tidaklah lebih dari :
* Mereka meninggal sebelum sempat menikah.
* Mereka meninggal setelah diceraikan suaminya,
dan belum sempat menikah dengan yang lain.
* Mereka telah menikah, akan tetapi suaminya
tidak bersamanya di surga, semoga Allah SWT
melindungi kita dari hal ini.
* Mereka meninggal setelah suaminya meninggal.
* Suaminya meninggal dan mereka tetap tidak
bersuami baru hingga meninggalnya.
* Suaminya meninggal kemudian mereka pun
dinikahi oleh laki-laki lain.

Keadaan di atas masing-masing kelak akan
mempunyai balasan tersendiri saat mereka di
surga sebagai berikut :

Wanita yang meninggal sebelum sempat menikah,
maka Allah SWT akan menikahkan mereka di
surga dengan seorang laki-laki dari penduduk
dunia, ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW : "Di
surga tidaklah ada orang yang membujang (tidak
memiliki pasangan." (HR. Muslim).

Syeikh Ibn ‘Utsaimin berkata : "Apabila seseorang
belum menikah, yaitu seorang wanita di dunia ini,
maka sesungguhnya Allah SWT akan menikahkan
dengan laki-laki yang ia sukai di surga. Karena
kenikmatan surga tidaklah hanya khusus untuk
laki-laki saja, akan tetapi semuanya adalah juga
untuk laki-laki dan wanita termasuk bentuk
kenikmatan (surga) adalah perkawinan." (Al-
Majmu’ al-Tsamin, 1/175).

Dan juga seperti mereka yang meninggal setelah
diceraikan, wanita yang suaminya tidak masuk
surga. Syeikh Ibn ‘Utsaimin berkata : "Seorang
apabila termasuk ahli surga dan belum menikah
atau suaminya tidak termasuk ahli surga, maka
sesungguhnya bila ia masuk surga, di sana akan
ada laki-laki ahli surga yang akan
memperisterinya." (Al-Majmu’ al-Tsamin, 1/173).
Maksudnya akan menikah dengan salah seorang
dari mereka.

Wanita yang meninggal setelah sempat menikah,
maka saat di surga ia untuk suaminya yang
dahulu.

Wanita yang suaminya meninggal kemudian tetap
tidak menikah setelah kematian suaminya hingga
ia pun meninggal, maka ia akan tetap menjadi
isterinya di surga.

Wanita yang suaminya meninggal dan kemudian
menikah dengan laki-laki lain, maka ia untuk
suami yang paling terakhir, walaupun sempat
menikah berkali-kali, berdasarkan sabda
Rasulullah SAW : "Wanita adalah untuk suami
terakhirnya." (Silsilah al-Ahadits al-Shahihah li al-
Albani, 1281).

Dan berdasarkan perkataan Hudzaifah ra kepada
isterinya : "Jika kamu tetap ingin menjadi isteriku
di surga, maka janganlah menikah dengan
siapapun sepeninggalku. Sesungguhnya wanita
saat di surga adalah untuk suami terakhirnya di
dunia karena itulah Allah SWT pun mengharamkan
isteri-isteri Nabi untuk dinikahi oleh orang lain
sepeninggalnya, karena mereka itu kelak akan
menjadi isteri-isterinya di surga." (Silsilah al-
Ahadits al-Shahihah li al-Albani, 1281).

Petanyaan : Bila ada yang
berkata, "Sesungguhnya tersebut dalam do’a
jenazah kita membaca : "Dan gantikanlah
(untuknya) suami yang lebih baik dari suaminya
(yang terdahulu)." (HR. Muslim).
Maka jika ia telah bersuami, bagaimana kita
mendo’akan untuknya dengan do’a seperti itu dan
kita mengetahui bahwa suami di dunia akan
menjadi suami di surga, akan tetapi bila ia belum
mempunyai suami dimanakah suaminya?

Jawaban : Adalah seperti yang disebutkan oleh
Syeikh Ibn ‘Utsaimin yaitu : "Jika dia belum
menikah, maka yang dimaksud adalah suami yang
lebih baik dari suami yang ditakdirkan untuknya
jika dia tetap hidup. Adapun jika dia sudah
menikah, maka yang dimaksud dengan suami
yang lebih baik adalah yang lebih baik sifat-
sifatnya di dunia, karena yang disebut dengan
menggantikan adalah bisa dengan menggantikan
orangnya seperti bila kita menukar kambing
dengan unta, atau bisa dengan mengganti sifat-
sifatnya seperti bilamana kita berkata : semoga
Allah menggantikan kekufuran orang itu dengan
keimanan, atau seperti pada firman Allah
SWT : "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti
dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit,
" (QS. Ibrahim : 48). Dimana buminya adalah
tetap bumi ini akan tetapi diratakan dan langitnya
adalah tetap langit ini akan tetapi terbelah." (Al-
Bab al Maftuh, 3/23-24).

Rendahkan Hati Tinggikan Harga Diri

Friday, September 16th, 2005

BismiLlaahirRahmaanirRahiim
Assalaamu’alaikum wr. wb.

Artikel tentang tawadhu (rendah hati) dan
pentingnya menghilangkan kesombongan…
Selamat membaca, semoga bermanfaat, Insya
Allah Ta’ala…

Rendahkan Hati Tinggikan Harga Diri
Seharusnya seorang mukmin itu ibarat padi. Makin
berisi makin merunduk. Malam itu Umar bin Abdul
Aziz sedang berada di kediamannya. Khalifah
kaum
Muslimin yang keadilannya dikenal hingga kini itu,
sedang menulis. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk.
Seorang tamu masuk dan berbincang dengan sang
khalifah. Saat itulah lampu yang berada di atas
meja Umar redup dan sepertinya kehabisan
minyak.

Sang tamu buru-buru bangkit dari duduknya dan
berkata, "Biar saya yang memperbaikinya."
Maksudnya, mengisi ulang minyak bakarnya.

"Menyuruh tamu, bukanlah perbuatan mulia," ujar
Umar.

"Kalau begitu, kubangunkan pembantumu!"

"Ia baru saja tidur," jawab Umar. Ia pun segera
bangkit dari duduknya dan mengisi minyak lampu.

"Engkau sendiri melakukannya, wahai Amirul
Mukminin?" tanya sang tamu heran.

"Aku melakukannya atau tidak, tetap saja aku
Umar. Tak ada yang berkurang dariku. Sebaik-baik
orang adalah yang tawadhu di sisi Allah," jawab
Umar.
Penggalan kisah itu hanyalah salah satu episode
dari kehidupan Umar bib Abdul Aziz. Selain
dikenal
adil, ia juga mengajarkan dan mempraktikkan
sikap
tawadhu. Seperti kisah di atas.

Bagi seorang Mukmin, sikap tawadhu menjadi
modal merengkuh kesuksesan: dunia dan akhirat.
Al-Qur’an banyak merekam nasib sosok-sosok
sombong yang akhir hayatnya terjerumus pada
kehinaan. Iblis adalah contoh konkret dari sosok
yang memiliki sifat takabbur. Dengan sombongnya
ia mengaku di hadapan Allah bahwa dia lebih baik
dari Adam. Ia mengatakan bahwa api lebih baik
daripada tanah. Dengah demikian, ia menganggap
dirinya lebih mulia, dan akhirnya merendahkan
orang lain. Sikap iblis inilah yang mengundang
murka Allah dan akhirnya mengenyahkannya dari
surga.

Dalam sejarah manusia, Fir’aun adalah sosok
yang
sangat sombong. Ia pernah memerintahkan
teknokrat pribadinya, Haman, untuk membuat
bangunan tinggi agar sampai ke pintu-pintu langit
dan dapat melihat Tuhan Musa. Allah
berfirman, "Dan berkatalah Fir’aun, ‘Hai Haman,
buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi
supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-
pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan
Musa
dan sesungguhnya aku memandangnya seorang
pendusta," (QS al-Mukmin: 36-37).

Tawadhu’ berarti menghargai orang lain. Sikap
menghargai orang lain merupakan sifat terpuji. Kita
menganggap bahwa orang lain lebih baik, lebih
benar dan lebih mulia. Tentu, penghargaan dan
pengagungan yang proporsional. Bukan taklid buta.

Rasulullah saw adalah orang yang sangat
menghargai prestasi dan pendapat para sahabat
dan pengikutnya. Menjelang Perang Badar, ia
mengalahkan pendapatnya dan menerima ide
Hubbab bin Mundzir untuk menentukan strategi
perang. Pada Perang Uhud, ia menerima pendapat
para sahabatnya yang ingin menyongsong lawan
di
medan perang, berlawanan dengan pendapatnya
sendiri yang ingin menanti musuh di dalam kota.
Usul Salman al-Farisi untuk menggali parit dalam
Perang Khandaq, diterima dengan baik oleh
Rasulullah saw. Dengan rendah hati Nabi saw
menerima pendapat para sahabatnya.

Abdurahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah
saw yang kaya sehingga para sejarawan
menjulukinya dengan Si Tangan Emas, tak pernah
membedakan dirinya dengan budak. Ketika ia
sedang berada di tengah para sahayanya, orang-
orang sulit membedakan, mana Abdurahman dan
mana budaknya.

Sungguh, Allah sangat suka terhadap orang yang
merendah di hadapan-Nya, sehingga diangkatlah
derajat kemuliaannya ke tingkat yang sangat tinggi
di hadapan semua makhluk. Allah
berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu
adalah sebaik-baik makhluk," (QS al-Bayyinah: 7).

Sebaliknya betapa Allah sangat murka terhadap
orang-orang yang menyombongkan diri di muka
bumi. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri," (QS an-Nisa: 36).
Surga pun mengharamkan dirinya untuk dimasuki
oleh orang-orang yang di qalbunya terdapat
kesombongan walau hanya sebesar debu.
Rasulullah saw bersabda, "Tidak akan masuk
surga
orang yang di dalam hatinya terdapat
kesombongan, walaupun seberat biji sawi," (HR
Muslim).

Rahasia hidup sukses atau hina, tidak terlepas
dari
seberapa mampu seseorang menempatkan dirinya
sendiri di hadapan Allah SWT. Tawadhu, inilah
kunci bagi siapa saja yang ingin memiliki pribadi
unggul.

Seseorang akan lebih cepat berhasil jika ia
mempunyai sifat tawadhu. Kunci terpenting untuk
sukses adalah kesanggupan menyerap ilmu dan
kemampuan mendengar serta menimba ilmu dari
orang lain. Hal ini akan membuat kita semakin
cepat melesat dibandingkan dengan orang-orang
sombong, merasa pandai sendiri, mengganggap
cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Biasanya,
orang seperti ini akan merasa dirinya tak lagi
membutuhkan pendapat, pandangan, dan visi
orang lain.

Kita, makhluk serba terbatas. Bahkan, hanya
untuk
melihat kotoran di mata atau hidung sendiri, kita
tak mampu. Kita membutuhkan cermin dan alat
bantu agar bisa menguji semua yang kita miliki
atau melengkapi yang belum kita miliki.

Kita harus menjadi orang yang "tamak" terhadap
ilmu, serakah terhadap pengalaman dan wawasan.
Setiap bertemu dengan orang lain, lihatlah
kelebihannya, simaklah kemampuannya, ambillah
ilmunya. Hal ini takkan menjadikan orang tersebut
bangkrut dan tidak memiliki kelebihan lagi.
Sebaliknya, kemampuan orang yang kita mintai
ilmunya akan semakin berkembang.

Sikap tawadhu sangat erat kaitannya dengan sifat
ikhlas. Rangkuman keikhlasan seorang hamba
ada
pada ketawadhuan. Orang yang tawadhu,
menanamkan keikhlasan dan bersarang di hatinya.
Karena, ketawadhu’an lebih berfungsi horisontal.
Tawadhu’ banyak berhubungan dengan manusia
secara sosial. Sedangkan ikhlas, lebih bersifat
vertikal, langsung pada Allah.

Seseorang belum dikatakan tawadhu kecuali jika
telah melenyapkan kesombongan yang ada dalam
dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam
diri
seseorang, semakin sempurnalah
ketawadhuannya.
Allah berfirman, "Aku akan memalingkan orang-
orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi
tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda
kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-
Ku, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika
mereka melihat jalan yang membawa kepada
petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi
jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus
menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena
mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka
selalu lalai dari padanya," (QS al-A’raaf: 146).

Tawadhu adalah salah satu akhlak mulia yang
menggambarkan keagungan jiwa, kebersihan hati
dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah saw
bersabda, "Barangsiapa yang bersikap tawadhu
karena mencari ridha Allah maka Allah akan
meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya
tiada berharga, namun dalam pandangan orang
lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang
menyombongkan diri maka Allah akan
menghinakannya. Ia menganggap dirinya
terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia
sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan
babi," (HR al-Baihaqi).

Ironisnya, kini kesombongan menjadi "pakaian"
yang dikenakan banyak orang. Suka
membanggakan diri, merasa tinggi melebihi orang
di sekitarnya, merasa orang lain
membutuhkannya,
suka memamerkan apa yang dimilikinya, dan tidak
mau menyapa lebih dahulu menjadi fenomena
yang
mudah dilihat di mana-mana.

Memilih Teman, Memilih Masa Depan

Friday, September 16th, 2005

"Berkawan seorang bodoh yang tidak
memperturutkan hawa nafsunya, jauh lebih baik
daripada dengan berkawan seorang ‘alim yang
selalu memperturutkan hawa nafsunya." (Ibnu
Atha’illah)

Memilih teman sama artinya dengan memilih
masa
depan. Memilih teman sama artinya dengan
memilih perilaku. Memilih teman sama artinya
dengan memilih kualitas ilmu. Maka, siapa pun
yang ingin masa depannya cerah, perilakunya
menawan hati, serta luas ilmu dan wawasannya,
maka ia harus sangat pandai memilih teman.

Kita akan sulit berkembang bila sehari-hari kita
bergaul dengan orang-orang malas. Kita pun akan
sulit meraih kemuliaan akhlak, bila sehari-hari kita
bergaul dengan orang yang buruk akhlaknya.
Maka,
tinggi rendahnya kualitas seorang manusia sangat
dipengaruhi oleh kualitas orang yang menjadi
temannya.

Rasulullah SAW bersabda, "Seseorang itu adalah
menurut agama sahabat (karib)nya. Karena itu,
ada baiknya seseorang dari kamu meneliti dulu
siapa yang akan dijadikan sahabatnya" (HR Abu
Dawud dan At-Turmudzi).

Orang seperti apa yang layak kita jadikan teman
dekat? Yang pertama dan utama adalah orang
yang
baik akhlaknya dan mampu mengendalikan hawa
nafsunya. Bahkan, Imam Ibnu Atha’illah dalam
kitab
Hikam mengatakan, "Berteman seorang bodoh
yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, jauh
lebih baik daripada dengan berkawan seorang ‘alim
yang selalu memperturutkan nafsunya". Mengapa?
Orang berilmu tapi memperturutkan hawa nafsu,
biasanya akan membenarkan kemaksiatan yang
dilakukannya dengan dalil-dalil Alquran dan hadis.
Dikhawatirkan, lambat laun kita pun akan
membenarkan kemaksiatan tersebut hanya karena
bersandar pada dalil-dalil.

Saudaraku, bahaya terbesar dalam hidup adalah
diperbudak nafsu. Tidak ada artinya limpahan
harta, tinggi jabatan, banyaknya pengikut,
tampannya rupa, atau luasnya ilmu, bila kita
diperbudak nafsu. Saat diperbudak nafsu, semua
yang kita miliki akan digunakan untuk memuaskan
nafsu tersebut.

Ada baiknya kita berpikir sejenak, lihat siapa
teman-
teman dekat kita. Boleh jadi, kualitas diri kita tidak
pernah mengalami perubahan karena salah
memilih teman. Kita berteman akrab dengan orang-
orang yang kualitasnya di bawah kita. Akibatnya,
kita merasa paling saleh, paling pintar, dan paling
hebat di antara teman-teman kita. Bila demikian,
kita tertipu oleh kepintaran semua. Ketika kita
salah
melihat diri, kita pun akan salah dalam melangkah.

Idealnya kita berteman dengan orang-orang yang
kualitasnya jauh lebih baik, sehingga kita tidak
merasa paling pintar dan paling saleh. Justeru kita
akan merasa paling kurang. Saat berteman
dengan
orang-orang yang berkualitas, biasanya kita akan
terangsang dan termotivasi untuk belajar dan
mengejar ketertinggalan. Karena itu ada yang
mengatakan, kalau kita ingin menjadi ulama maka
bergaulah dengan ulama; ingin menjadi pedagang,
maka bergaullah dengan para pedagang; ingin
menjadi seniman, maka bergaulah dengan
seniman.

Saudaraku, setiap hari masalah yang kita hadapi
akan semakin berat dan kompleks. Kita akan
terpuruk bila banyaknya masalah tidak diimbangi
dengan peningkatan kemampuan diri untuk
menyelesaikannya. Maka, rugi bila dalam sehari
kita tidak bertemu dengan orang yang lebih baik
dari kita. Rugi karena kita tidak mendapat ilmu,
wawasan, dan semangat baru. Dan celaka bila kita
menjauh dan memusuhi orang-orang yang lebih
baik dari kita. Wallahu a’lam
( KH Abdullah Gymnastiar )

Surat Cinta Untuk Jiwa

Wednesday, September 14th, 2005

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Surat cinta ini kutujukan untuk diriku sendiri
serta saudara-saudariku yg Insya Allah tetap
mencintai Allah swt dan RosulNya diatas segalanya.

Karena hanya cinta itu yang dapat mengalahkan
segalanya. Cinta hakiki yg membuat manusia melihat
segalanya dari sudut pandang yg berbeda, lebih bermakna dan indah.

Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa
saudara-saudariku yang mulai lelah menapaki
jalan-Nya ketika kali mengeluh, merasa terbebani
bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang
sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan
serta kepayahan yang dirasakan seorang hamba
melainkan Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati
saudara-saudariku yang kerap kali oleh cinta
selain-Nya, yg mudah sekali terlena oleh indahnya
dunia, yg terkadang melakukan segalanya bukan
karena-Nya. Lalu diruang hatinya yg kelam merasa
senang jika dilihat dan dipuji orang lain, entah dimana keikhlasan.
Maka saat ini kurasakan kekecewaan dan kelelahan
karena yg kulakukan tak sepenuhnya berlandaskan
keikhlasan. Padahal Allah tak pernah menanyakan
hasil, Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses.

Surat ini kutuujkan juga untuk ruhku dan ruh
saudara-saudariku yg mulai terkikis oleh dunia
yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup
oleh maksiat yang dinikmatinya. Lalu dimanakah
kejujuran diletakan? Dan kini terabaikan sudah
secara nurani yang bersih saat ibadah hanyalah
rutinitas belaka, saat fisik dan pikiran disibukan
oleh dunia, saat wajah menampakan kebahagiaan yang
semu. Coba lihat dirimu menangis, tertawa atau merana?

Surat ini kuujakan untk diriku dan
saudara-saudariku yg sombong, yg terkadang bangga
pada dirinya sendiri. Padahal kita menyadari bahwa
tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, namun kita
masih bergulat terus dengan kefanaan.

Surat ini kutujukan hatiku dan hati
saudara-saudariku yang mulai mati, saat tiada
getar ketika Asma Allah disebut, saat tiada sesal
ketika kebaikan terlewat begitu saja, saat tiada
rasa berdosa ketika mendzalami diri dan saudaranya.

Akhirnya surat ini kutujukanuntuk jiwa yg masih
memiliki cahaya meskipun sedikit. Jangan biarkan
cahaya itu padam, maka terus kumpulkan cahaya itu
hingga ia dapat menerangi wajah-wajah disekelilingnya….

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Keberkahan Sahur

Monday, September 12th, 2005

Keberkahan Sahur

Rasulullah SAW bersabda, "Sahur adalah
makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan
walaupun salah seorang dari kalian hanya
meneguk seteguk air, karena Allah dan para
malaikat bershalawat atas orang-orang yang
bersahur". (HR Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad).

Penjelasan: Ada dua kata kunci dalam hadits
tersebut, yaitu sahur dan keberkahan. Sahur
adalah "ritual" menyantap makanan saat
menjelang fajar dan sebelum subuh bagi orang-
orang yang akan menunaikan ibadah shaum.
Sahur termasuk salah satu amalan sunnah yang
dianjurkan (sunnah muakad).

Kata kedua adalah keberkahan. Apa yang
dimaksud dengan keberkahan atau berkah?
Menurut Ar-Raghib Al-Asfahanny, berkah berarti
tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu. Ibnul
Qayyim Al-Jauziyah mendefinisikan berkah
sebagai kenikmatan atau tambahan. Berkah pun,
masih menurut Ibnul Qayyim, mengandung hakikat
sebagai kebaikan yang banyak dan terus menerus
yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali
Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sedangkan Muhammad
bin Shalih Al-Utsaimin mengartikan berkah
sebagai kebaikan yang banyak dan tetap.

Dari makna-makna tersebut kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa berkah atau keberkahan adalah
suatu sifat yang di dalamnya mengandung
kebaikan. Berkah bisa berkaitan dengan perbuatan
atau ucapan, tempat, dan waktu. Sahur adalah
perkara yang setidaknya mengandung dua
keberkahan, yaitu keberkahan dalam hal
perbuatan dan keberkahan dalam hal waktu
pelaksanaan.

Berkaitan dengan keberkahan sahur sebagai
perbuatan, Rasulullah SAW bersabda: ”Dari Anas
bin Malik RA Rasulullah SAW bersabda, "Makan
sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu
terdapat keberkahan". Juga hadits dari Ahmad dan
An-Nasai, "Sesungguhnya dia (makan sahur)
adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian,
maka jangan kalian meninggalkannya."

Demikian utamanya sahur, sampai-sampai Rasul
menganjurkan kita untuk tidak meninggalkannya
walau hanya dengan seteguk air saja. "Jangan
kalian tinggalkan (sahur) walaupun salah seorang
dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena
Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-
orang yang bersahur".

Berkaitan dengan waktu, keberkahan sahur terjadi
karena dilakukan di sepertiga malam terakhir.
Inilah waktu mustajabnya doa; saat Allah
SWT "turun" ke bumi; dan saat orang-orang
beriman biasa melakukan Qiyamul Lail (QS Al-
Israa: 79). Bila dua keberkahan (perbuatan dan
waktu) menjadi satu, maka sangat rugi bila kita
mengabaikannya.

Lalu, bagaimana caranya agar sahur kita menjadi
maksimal? Intinya, kita harus menambah porsi
dzikir pada saat sahur dibanding porsi makanan
yang kita konsumsi. Karena itu, sangat dianjurkan
bila sebelum makan sahur kita berwudhu terlebih
dulu, shalat, berdoa, dan dzikir.

Bukankah Rasul pernah bersabda, "Rabb kita
Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke
langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
terakhir. Allah berfirman: ‘Siapa yang berdoa
kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa
yang minta kepada-Ku, Aku akan memberinya,
dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku
akan mengampuninya’." (HR Bukhari). Yang juga
harus diperhatikan, sahur bisa diakhirkan, jangan
berlebihan, dan setelah sahur jangan tidur lagi.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Cara Sehat Bersantap Sahur

Monday, September 12th, 2005

Cara Sehat Bersantap Sahur

MALAS rasanya, itu yang sering kita rasakan
pada saat kita akan melakukan santapan sahur.
Padahal begitu pentingnya sahur untuk kita yang
akan melakukan ibadah puasa. Bayangkan saja,
jarak waktu antara makan sahur dan buka puasa
selama hampir 14 jam kita akan mengosongkan
perut kita dari segala masukan makanan kepada
tubuh kita. Bahkan pada saat kita tidur, tubuh
tetap membutuhkan energi untuk aktivitas organ-
organnya. Mengosongkan perut dalam beberapa
jam, dapat menguras energi yang sangat banyak,
sehingga mengakibatkan badan menjadi lemas
dan stres juga dapat lebih mudah marah.

Pasalnya, pada saat kita berpuasa kadar gula
darah sedang menurun, sehingga tubuh terasa
lemas, konsentrasi terganggu. Anda pun terlihat
lemas dan lesu, apalah jadinya jika tubuh kita ini
tidak memerhatikan santapan sahur dengan baik,
ini akan merusak jaringan tubuh kita.

Melakukan sahur yang baik dan teratur, ternyata
terbukti juga bisa menjadi kunci yang sehat dan
baik, begitu juga bagi beberapa pengidap penyakit
seperti penyakit mag. Walaupun sahur begitu
penting, tetapi jenis makanannya pun ternyata
dapat menentukan fungsinya. Karena, meski
sahurnya teratur, tetapi badan tetap merasa lemah
dan lelah. Coba perhatikan kembali menu sahur
yang disajikan.

Santapan sahur yang terlalu banyak menyajikan
mengandung kalori dan lemak justru akan
mengakibatkan rasa lemas dan banyak
mengantuk, sehingga produktivitas sehari-hari
akan terganggu yang akhirnya etos kerja kita
menurun. Jika kita perbandingkan pengaruh antara
yang sahur banyak mengonsumsi lemak tinggi,
dan sahur yang banyak mengonsumsi karbohidrat,
kandungan kedua jenis sahur itu sama dan
seimbang dan nutrisinya sama.

Dapat dirasakan bagi mereka yang mengonsumsi
lemaknya tinggi, ternyata lebih mudah diserang
lapar, sehingga pertengahan hari pun mereka
sudah merasakan kelemahan, di antaranya lapar,
lemas, dan konsentrasi mulai pudar.

Sebaliknya kelompok tinggi karbohidrat akan lebih
bertahan lebih lama, dan kelompok ini lebih berhati-
hati dalam melakukan santapan sahurnya. Selain
itu, makanan yang banyak mengandung lemak
akan menghambat proses penyerapan makanan
yang baik di tubuh. Hal itu akan mengakibatkan
risiko beberapa penyakit.

Agar tubuh kita tetap bugar dalam menjalankan
ibadah puasa, harus diperhatikan juga mengenai
kebutuhan cairan dalam tubuh, di antaranya
dengan mengonsumsi air putih, karena air putih
mudah dan cepat diserap tubuh melalui pembuluh
darah, sehingga mempunyai manfaat membantu
mencegah terjadinya penggumpalan dalam darah.

Sedangkan untuk jenis cairan minuman lain perlu
melalui proses pencernaan terlebih dahulu.
Bahkan untuk proses di saluran pencernaan,
sering membutuhkan cairan yang berasal dari
aliran darah, tetapi bukan berarti menghapuskan
jenis minuman lain untuk tidak dikonsumsi.

Banyak para ahli menganjurkan agar santapan
sahur kita dilakukan tidak dengan jenis menu
makanan yang berat-berat, sehingga dapat
mengakibatkan seperti yang dijelaskan di atas.
Tak ada salahnya jika santapan sahur ini disajikan
dengan jenis makanan yang dapat mengundang
selera makan, sehingga tidak menimbulkan
kemalasan dalam mengonsumsinya.

Bagi sebagian orang yang mempunyai risiko
penyakit, seperti mengidap penyakit mag, jantung,
serta jenis lain. Dalam menghadapi santapan
sahur ini, disarankan untuk berkonsultasi dengan
ahli gizi (nutrisionis) agar terjaga kondisi tubuhnya
dan tetap bugar dalam menjalankan ibadah puasa.

Jadi sesuaikan kembali menu santapan sahur
Anda dan kebutuhan nutrisi tubuh dengan baik,
agar dalam menunaikan ibadah puasa ini dapat
berjalan dengan lancar, sehingga tidak
mengganggu aktivitas sehari-hari, sampai azan
magrib tiba tanda untuk berbuka puasa.

Antara Puasa dan Takwa

Monday, September 12th, 2005

Antara Puasa dan Takwa

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al Baqarah : 183).

Dari firman Allah SWT di atas sering sekali kita
mendengar penjelasan dari ceramah-ceramah atau
pengajian bulan Ramadlan ini, bahwa salah satu
tujuan disyariatkan dan diwajibkannya puasa bagi
umat Islam adalah agar mereka bertakwa kepada
Allah SWT. Kata-kata takwa memang sangat
sering dan mudah dikatakan sekaligus sulit dan
jarang sekali direalisasikan secara hakiki dalam
kehidupan sehari-hari, bahkan di bulan yang penuh
berkah ini, terbukti dengan masih banyaknya
kejahatan yang terjadi, seakan tidak bisa terhenti.

Nilai atau kadar takwa manusia memang berbeda,
oleh sebab itulah Allah SWT
berfirman; "Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
takwa diantara kamu…" (QS. Al Hujurt : 13).
Dalam ayat ini Allah SWT seakan berkata; bahwa
kadar takwa kalian itu bertingkat-tingkat dan
berkelas-kelas, sedangkan yang paling mulia
menurutku adalah orang yang tingkat
ketakwaannya paling tinggi.

Muslim yang berpuasa itu sendiri sebenarnya
sudah berada dalam kelas atau tingkat ketakwaan
tertentu, sebab orang yang sama sekali tidak
mempunyai perasaan takwa tentu tidak akan mau
menahan lapar dan haus akibat berpuasa. Namun,
perasaan takwa yang menjadi tujuan puasa dalam
ayat di atas bukanlah sekedar berupa keinginan
untuk berpuasa disebabkan saya adalah seorang
muslim, maka sudah sepantasnya saya ikut-
ikutan berpuasa, takwa yang dimaksudkan juga
bukan perasaan yang mendorong kita untuk tidak
makan dan minum sampai matahari tenggelam
tanpa membawa sedikitpun perubahan ke arah
yang lebih baik, bukan itu.

Ketakwaan yang ingin diajarkan Allah SWT melalui
kewajiban berpuasa adalah peningkatan kadar
takut, tunduk, dan kesadaran yang semakin hari
semakin kuat dirasakan, ketakwaan itu adalah
keberhasilan seseorang naik kelas yang lebih
tinggi dalam menjalankan perintah Allah SWT dan
menjahui laranganNya. Oleh sebab itu, puasa
yang tidak bisa meningkatkan kadar ketakwaan
adalah puasa yang belum bisa menggapi hakikat
tujuan diwajibkannya puasa itu sendiri.

Bentuk takwa yang ingin digapai dengan berpuasa
bermacam-macam ketakwaan yang ingin dibentuk
Allah SWT melalui puasa bagi orang kaya adalah
agar mereka pernah merasakan penderitaan kaum
miskin sehingga menjadi lebih santun kepada
mereka, bagi orang miskin, puasa adalah
pembelajaran untuk tidak menjadikan dunia
sebagai satu-satunya tujuan hidup, bagi para
pejabat, puasa adalah menahan diri agar benar-
benar mengemban amanat rakyat selama mereka
menjabat, dan begitu seterusnya bagi yang lain.

Dengan puasa ini marilah kita selalu barusaha
meningkatkan ketakwaan kita, hari ini harus lebih
baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih
baik dari hari ini. Marilah kita lewati sepuluh hari
pertama bulan Ramadlan ini dengan membawa
rahmat Allah SWT untuk menyambut sepuluh hari
yang kedua dengan harapan bisa meraih magfirah
(ampunan)Nya, dan akhirnya, semoga kita bisa
menyempurnakan sepuluh hari terakhir dengan
selalu berharap mudah-mudahan pada hari raya
nanti kita termasuk orang-orang yang
mendapat ‘grasi’ Allah SWT, terbebas dari api
neraka. Amn.