Sains Menemukan Tuhan..

makeURL(”sumber : http://penulis-muda.blogdrive.com”,”eHNsL2J1bGxldGluLnhzbA==”);sumber : http://penulis-muda.blogdrive.com

Saya bukan seorang ahli biologi tetapi saya
menyukai biologi. Saya
bukan seorang ahli fisika tetapi saya menyukai
fisika…. Saya hanya
seorang anak manusia yang menyukai ilmu
pengetahuan secara
keseluruhan. Sejak kecil saya bercita-cita ingin
menjadi seorang
ilmuwan yang bekerja di sebuah laboratorium fisika-
kimia.

Tapi mungkin pada saat ini usaha saya itu belum
kesampaian. Saya
hanya baru bisa merangkaikan kembali menjadi
satu-kesatuan yang
indah, yang sebelumnya tercerai berai. Mungkin
kelak saya akan kearah sana. Pekerjaan saya
saat ini merupakan salah satu tahapan untuk
kearah sana.

Bagi saya, ilmu pengetahuan adalah jalan menuju
Tuhan. Kemarin,
ketika saya membaca Al Quran, bersama-sama
dengan adik saya, saya kembali menemukan ayat
yang menyatakan hal ini, "Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang
berhak disembah), Yang menegakkan keadilan.
Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan
melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ali Imran 18)

Beberapa tahun lalu, saya tengah duduk di tepi
laut pangandaran pada suatu petang, memandang
gelombang yang datang bergulung-gulung dan
merasakan irama nafas saya, ketika tiba-tiba saya
menyadari seluruh lingkungan saya seolah-olah
terlibat dalam suatu tarian kosmik raksasa. Saya
tahu bahwa pasir, batu karang, air, dan udara di
sekitar saya terdiri dari molekul-molekul dan atom-
atom yang bergetar, dan atom-atom ini terdiri
partikel-partikel yang saling berinteraksi satu sama
lain dengan jalan menciptakan dan memusnahkan
partikel-partikel lain. Saya juga tahu bahwa
atmosfir bumi terus- menerus dihujani oleh ’sinar-
sinar kosmik’, yakni partikel-partikel berenergi
tinggi yang mengalami tabrakan berkali-kali
sementara mereka menerobos masuk ke udara.

Bagaimana pemahaman-pemahaman spiritual
(spiritual insights) dapat timbul sendiri muncul dari
lubuk kesadaran. Saya ingat pengalaman pertama
saya seperti itu. Karena muncul setelah bertahun-
tahun berpikir secara analitis, pengalaman itu
terasa begitu melanda sehingga air mata saya
bercucuran.

Untuk sebuah permulaan, saya merasa takjub
dengan keteraturan dan keseimbangan alam
semesta ini. Saya merasa takjub dengan desain
pada tubuh manusia. Saya takjub dengan matahari
yang bersinar terik, rembulan yang begitu indah,
petir yang berkilauan keemasan, warna pelangi
yang membuat mata terkesima. Saya membaca
beberapa buku Harun Yahya, artikel-artikel fisika
David Bohm, artikel-artikel neurosains Karl
Pribram, artikel-artikel holografik Michael Talbot,
buku-buku Fritjof Capra (the turning point dan the
tao of physics), buku-buku Murthada Muthahari,
buku-buku Herbert Benson (beyond the relaxation
response dan timeles healling), dan lain
sebagainya. Ketika saya membaca buku-buku itu,
saya terus-menerus mendapatkan pencerahan.

Saya merasa yakin jika sains, pada saatnya nanti,
akan mengarahkan pandangannya kepada Islam.
Mereka akan memberikan bukti tentang keesaan
Allah SWT. Saya juga merasa yakin jika alam
semesta ini adalah berada pada tingkatan
sekunder dari realitas yang sesungguhnya. Saya
membaca buku-buku ulama-ulama terdahulu
seperti ar razi, ibnu miskawyh, ibnu arabi, al jami,
rumi, mullah shadra dan saya juga membaca
pemikiran kontemporer Osman Bakar, al attas,
nashr, … mereka menyebutkan hal yang sama
dengan apa yang ditemukan teori- teori sains saat
ini.

Sebagian orang mengatakan bahwa memadukan
sains dan agama adalah sesuatu hal yang
mustahil. Bagi mereka, sains adalah sains dan
agama adalah agama. Pada satu titik memang
betul. Tetapi jelas, memisahkan secara
keseluruhan adalah sebuah tindakan yang kurang
bijaksana. Di dalam Al Quran sendiri dijelaskan
bahwa sains berfungsi sebagai jalan mengenal
Tuhan.

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-
tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi
(afaq) dan pada diri mereka sendiri (anfus),
sehingga jelas bagi mereka kebenaran (al haq)
itu." (Fushshilat 53).

Di dalam ayat ini kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa "di segala
wilayah bumi" (afaq) dan "pada diri mereka sendiri"
(anfus). Jelas
terdapat dua kategori ayat yaitu yang eksternal,
disimbolkan dengan
cakrawala dan yang internal, disimbolkan oleh diri.
Yang eksternal
merupakan gejala-gejala alam, obyek ilmu-ilmu
kealaman. Yang internal merupakan gejala-gejala
budaya, obyek ilmu-ilmu kemanusiaan. Kedua
jenis ayat tersebut diciptakan agar kita mengenal
dan memahami kebenaran (al haq) yaitu Yang
Maha Pencipta, Allah SWT dan firman-Nya Al-
Quran.

Mereka yang berpikir parsial mengemukakan
bahwa jurnal-jurnal sains yang membahas
masalah mistisme dan mengait-ngaitkan temuan
sains dengan ayat-ayat di dalam kitab suci (Al
Quran) adalah bagian dari pseudo-sains (sains
palsu). Ya, itu hak mereka. Tapi apakah mereka
sadar jika apa-apa yang dikemukakan dalam jurnal
tersebut mengambil banyak data dari temuan
sains mutakhir? Bahkan para ilmuwan ternama
saat ini mengakui lebih dari satu metodologi dalam
sains itu sendiri. Sebagaimana tutur Basil Hiley,
seorang pakar fisika di Birbeck College di
London, "menunjukkan bahwa kita harus siap
mempertimbangkan paham-paham baru yang
radikal mengenai realitas."

"Wahai Tuhan kami, jauhkanlah kami dari
keterikatan pada keindahan dunia, dan
tampakkanlah pada kami watak segala
sesuatu "sebagaimana adanya". Lepaskan dari
mata kami tirai kejahilan, dan tunjukkan pada kami
segala sesuatu sebagaimana adanya. Jangan
tampakkan pada kami yang tiada seperti ada, dan
jangan pula jatuhkan tirai ketiadaan pada indahnya
keberadaan. Jadikanlah dunia fenomena ini cermin
yang memantulkan wujud keindahan-Mu, bukan
sebuah tirai yang memisahkan dan menjauhkan
kami dari-Mu. Jadikanlah fenomena tak nyata dari
alam semesta ini menjadi sumber pengetahuan
dan pemahaman bagi kami, bukan penyebab
kejahilan dan kebutaan. Keterasingan dan
keterputusaan kami dari keindahan-Mu berasal
dari kesalahan kami sendiri. Jauhkanlah
kami dari diri kami sendiri, dan ikatkan pada kami
pengetahuan yang
dekat mengenai-Mu." (Doa Sufi Imam
Abdurrahman Al Jami

Leave a Reply