Archive for the ‘Religion’ Category

I proud to be a Muslim

Friday, June 2nd, 2006
sumber : Chandra Kurniawan

Bom meledak. Bumi berguncang. Mayat-mayat
tak bersalah bergelimpangan. Anak menjadi yatim
dan istri menjadi janda. Kebencian dan kemarahan
meledak di dalam dada, teriring dengan
mengalirnya airmata kepiluan.

Kemiskinan merajalela. Aqidahkan tergadaikan.
Bumi menjadi rusak karena keserakahan. Toko-
toko di jarah dan dibakar. Manusia tiba-tiba
menjadi biadab dan liar!

Lantas kemudian orang-orang kafir mencemooh
dengan nada sinis: “Inikah Islam itu, yang
membiarkan orang-orang tak bersalah menjadi
korban? Inikah Islam itu, yang kemiskinan adalah
seolah menjadi miliknya dan kekumuhan seolah
menjadi rumahnya?” “Orang-orang semacam
inikah di antara kita yang di beri anugerah oleh
Allah kepada mereka?” (Al An’am: 53). “Mengapa
Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-
pasar?” (Al Furqan: 7). Dengan pernyataannya itu,
mereka hendak membuat goyah keyakinan dan
semangat juang kaum Muslimin. Sebagian orang
yang dangkal ilmunya dan kering amalnya
termakan perkataan itu. Islam tak lagi
dibanggakan.

Wahai kaum muslimin…
Wahai generasi pejuang…
Wahai orang-orang beriman…
Engkau adalah orang yang paling tinggi aqidahnya,
putih lagi kokoh sekokoh gunung, benar sebenar
fajar, lagi sempurna sesempurna pengembannya,
yaitu Rasulullah SAW.

Paling tinggi yang disembahnya, karena
penguasa, Tuhan, penolong, pemberi kehidupan,
dan yang memberi rezeki; adalah Allah SWT,
Tuhan Yang Esa.

Paling tinggi tamsilnya. Ia merupakan intisari
pengajaran, kesimpulan norma-norma semua
umat, dan kecemerlangan yang tidak didapati
dalam kitab suci lainnya.

Paling tinggi Kitabnya. Ia merupakan wahyu yang
diturunkan, tidak mengandung kebathilan, baik dari
depan maupun belakangnya, tidak membosankan
sekalipun banyak diulang, tidak pernah habis
keajaibannya, dan tidak pernah habis usianya.

Paling tinggi risalahnya, karena bersifat rabbani,
internasional, komprehensif, lagi sempurna. Ia
merupakan rahasia penyelamatan alam,
perbendaharaan keberuntungan manusia, dan
sumber keselamatan di dunia dan akhirat bagi
manusia.

Paling tinggi pimpinannya, karena dia terpelihara
lagi didukung oleh wahyu, menang melalui hujjah
atas orang-orang yang sebelummu, hakim yang
adil, pengemban kebenaran, penyebar keutamaan,
dan anutan umat manusia.

Paling tinggi sejarahnya. Di urutan yang paling
atas terdapat Ash Shiddiq, Al Faruq, Dzun Nurrain,
Abus Sibthain, Saif Allah, penolong-penolong
Rasulullah, kepercayaan umat, dan sebagainya.

Paling tinggi pengorbanannya, maka tanyakanlah
kepada Badar, Uhud, Qadisiyah, Yarmuk, Hathin,
dan Ain Jalut. Tanyakanlah kepada tengkorak
orang-orang yang mulia di dunia mengapa mereka
dipenggal? Tanyakanlah kepada darah para
pahlawan di lembah-lembah yang diramaikan
mengapa mereka dialirkan? Tanyakanlah kepada
tubuh yang suci, karena prinsip apakah ia dibunuh?

Paling tinggi warisannya. Engkau tidak punya
kisah seribu satu malam, igauan Plato, mimpi
Shakeshpare, atheisme Nietszhe. Akan tetapi
engkau punya Kitab yang dibaca, sunnah yang
diikuti, ayat-ayat dan nasihat-nasihat, bukti yang
nyata, cahaya, petunjuk, dan penawar segala
penyakit yang ada dalam kalbu.

Wahai orang-orang yang futur….
Wahai orang-orang yang semangatnya luntur…
Apakah engkau lupa kita pernah berjaya? Apakah
engkau lupa kita pernah berkuasa? Memayungi
duapertiga dunia, merentas benua melayari
samudera. Keimanan dan ketakwaan rahasia
mereka gapai kejayaan.

Majulah wahai anak bangsa kita bina kekuatan
jiwa menempuh perjuangan! Gemilang generasi
yang silam membawa arus perubahan. Keikhlasan
hati dan nurani, ketulusan jiwa mereka berjuang.

Sejarah telah mengajar kita budaya Islam di serata
dunia, membina peradaban berjaya. Merubah,
mengangkat kemuliaan! Katakanlah pada orang-
orang kafir itu: Sesungguhnya Aku Bangga
Menjadi Seorang Muslim.

(chandra)

Bila Selalu Ingat Mati…!!!

Sunday, May 28th, 2006

Sehalus-halus kehinaan di sisi ALLOH adalah
tercerabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Hal ini
biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang
jauh dari meningkat, atau bahkan malah
menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya,
tidak bertambah pula ilmu yang dapat
membuatnya takut kepada ALLOH, bahkan justru
maksiat pun sudah mulai dilakukan, dan anehnya
yang bersangkutan tidak merasa rugi. Inilah
tanda-tanda akan tercerabutnya nikmat
berdekatan bersama ALLOH Azza wa Jalla.

Pantaslah bila Imam Ibnu Athoillah pernah
berujar, "Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-
pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai
akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa".
Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak
berusaha memelihara iman di dalam kalbunya.
Karenanya jangan pernah permainkan nikmat
iman di hati ini.

Ada sebuah kejadian yang semoga dengan
diungkapkannya di forum ini ada hikmah yang
bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang
waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat
shalat tak lepas dari linang air mata, shalat
tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan
istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid.
Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang
menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-
ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar
utangnya segera terlunasi. Selang beberapa
lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya
dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya
pun berkenan melunasi utang rekan tersebut.

Sayangnya begitu utang terlunasi doanya mulai
jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah.
Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis
tersedu-sedu, "Mengapa Engkau tidak
membangunkan aku, ya ALLOH?!", ujarnya
seakan menyesali diri. Tapi lama-kelamaan
tahajud tertinggal justru menjadi senang karena
jadual tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan
biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir
ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari
berikutnya ketika azan tuntas baru selesai
wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan
selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia
pun memutuskan untuk shalat di rumah saja.

Begitupun untuk shalat sunat, biasanya ketika
masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid
terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu
dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat
datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri
menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya.
Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling
awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah,
hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok,
bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu,
dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali.
"Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku
tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus
duluan!" Pikirnya.

Saat akan shalat sunat rawatib, ia malah
menundanya dengan alasan nanti akan di rumah
saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak
dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya,
ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang
ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta’lim yang
biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja
dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu
malah hilang.

Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang
justru antara apa yang diucapkan di mulut
dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak
bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah
keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa
kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk
tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun
menjadi kering, tidak lagi memancarkan keuatan
ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda
hati mulai mengeras.

Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercerabut
satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah
tercerabutnya taupiq dari-Nya. Akibat selanjutnya
pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri
menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata
jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun
mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat
yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan
munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang
pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya
tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia
dalam keadaan hilang keyakinannya kepada
ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek
di akhir), naudzhubillah. Apalah artinya hidup
kalau akhirnya seperti ini. ***

Ada lagi sebuah kisah pilu ketika suatu waktu
bersilaturahmi ke Batam. Kisahnya ada seorang
wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam
pergaulan dengan lawan jenisnya sehingga dia
hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah
kemana (tidak bertanggung jawab). Hampir
putus asa ketika si wanita ini minta tolong kepada
seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia untuk
bisa melakukan persalinan di suatu klinik bersalin,
hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. Walau
tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini
pun menjadi ibu dari seorang bayi mungil.

Sayangnya, sesudah beberapa lama ditolong,
sifat-sifat jahiliyahnya kambuh lagi. Mungkin
karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan
ketika dinasihati pun tidak mempan lagi hingga
akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si
wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada
pria yang mau bertanggung jawab.

Lalu ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata
aqidahnya beda. Si orang yang akan membantu
pun menawarkan bantuan keuangan dengan
catatan harus pindah agama terlebih dulu. Si
wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya "Toh
hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan
aku akan masuk Islam lagi". Tapi ternyata ALLOH
menentukan lain, saat persalinan itu justru
malaikat Izrail datang menjemput, meninggalah si
wanita dalam keadaan murtad, naudzhubillah.
***

Cerita ini nampaknya bersesuaian pula dengan
sebuah kisah klasik dari Imam Al Ghazali.
Suatu ketika ada seseorang yang sudah
bertahun-tahun menjadi muazin di sebuah
menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di
samping mesjid itu adapula sebuah rumah yang
ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim,
diantara anak-anak keluarga itu ada seorang
anak perempuan berparas cantik yang sedang
berangkat ramaja.

Tiap naik menara untuk azan, secara tidak
disengaja tatapan mata sang muazin selalu
tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula
ketika turun dari menara. Seperti pepatah
mengatakan "dari mata rurun ke hati", begitulah
saking seringnya memandang, hati sang muazin
pun mulai terpaut akan paras cantik anak gadis
ini. Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut
Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya malah
khusyu memikirkan anak gadis itu.

Karena sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin
ini pun nekad mendatangi rumah si anak gadis
tersebut dengan tujuan untuk melamarnya.
Hanya sayang, orang tua si anak gadis menolak
dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya
harus pindah keyakinan karena mengikuti agama
calon suaminya, sang muazin yang beragama
Islam itu. "Selama engkau masih memeluk Islam
sebagai agamamu, tidak akan pernah aku ijinkan
anakku menjadi istrimu" ujar si Bapak, seolah-
olah memberi syarat agar sang muazin ini mau
masuk agama keluarganya terlebih dulu.

Berpikir keraslah sang muazin ini, hanya sayang,
saking ngebetnya pada gadis ini, pikirannya
seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih.
Hingga akhirnya di hatinya terbersit suatu niat,
"Ya ALLOH saya ini telah bertahun-tahun azan
untuk mengingatkan dan mengajak manusia
menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah
menyaksikan itu dan telah pula memberikan
balasan pahala yang setimpal. Tetapi saat ini aku
mohon beberapa saat saja ya ALLOH, aku akan
berpura-pura masuk agama keluarga si anak
gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan
kembali masuk Islam". Baru saja dalam hatinya
terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari
tangga menara mesjid yang cukup tinggi itu.
Akhirnya sang muazin pun meninggal dalam
keadaan murtad dan suul khatimah. ***

Kalau kita simak dengan seksama uraian-uraian
kisah di atas, nampaklah bahwa salah satu
hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah
jikalau kita sedang berbuat kurang bermanfaat
bahkan zhalim, maka salah satu teknik
mengeremnya adalah dengan ‘mengingat mati’.
Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal
kita sedang berbuat maksiat, zhalim, atau
aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah?
Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi
bagian yang sangat penting setelah doa dan
ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu
ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan
khusnul khatimah, maka selalulah ingat mati.

Dalam hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan
para sahabatnya untuk selalu mengingat
kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah
keluar menuju mesjid. Tiba-tiba beliau mendapati
suatu kaum yangsedang mengobrol dan tertawa.
Maka beliau bersabda, "Ingatlah kematian. Demi
Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya,
kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui,
niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak
menangis."

Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita
seakan punya rem yang kokoh dari berbuat dosa
dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan
saja kita akan senantiasa terarahkan untuk
melakukan segala sesuatu hanya yang
bermanfaat. Begitupun ketika misalnya,
mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang
didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja,
seperti nasyid-nasyid Islami atau bahkan bacaan
Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH
Azza wa Jalla. Sehingga kalaupun malaikat Izrail
datang menjemput saat itu, alhamdulillah kita
sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah
khusnul khatimah.

Bahkan kalau kita lihat para arifin dan salafus
shalih senantiasa mengingat kematian,
seumpama seorang pemuda yang menunggu
kekasihnya. Dan seorang kekasih tidak pernah
melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari
sahabat Hudzaifah r.a. bahwa ketika kematian
menjemputnya, ia berkata, "Kekasih datang
dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa
yang menyesali kedatangannya. Ya ALLOH, jika
Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai
daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada
sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada
kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian
sehingga aku menemui-Mu."

Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT
menjadi orang yang beroleh karunia khusnul
khatimah. Amin! ***

Bundel by UGLY — Jan ‘02

Keberkahan Sahur

Monday, September 12th, 2005

Keberkahan Sahur

Rasulullah SAW bersabda, "Sahur adalah
makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan
walaupun salah seorang dari kalian hanya
meneguk seteguk air, karena Allah dan para
malaikat bershalawat atas orang-orang yang
bersahur". (HR Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad).

Penjelasan: Ada dua kata kunci dalam hadits
tersebut, yaitu sahur dan keberkahan. Sahur
adalah "ritual" menyantap makanan saat
menjelang fajar dan sebelum subuh bagi orang-
orang yang akan menunaikan ibadah shaum.
Sahur termasuk salah satu amalan sunnah yang
dianjurkan (sunnah muakad).

Kata kedua adalah keberkahan. Apa yang
dimaksud dengan keberkahan atau berkah?
Menurut Ar-Raghib Al-Asfahanny, berkah berarti
tetapnya kebaikan Allah terhadap sesuatu. Ibnul
Qayyim Al-Jauziyah mendefinisikan berkah
sebagai kenikmatan atau tambahan. Berkah pun,
masih menurut Ibnul Qayyim, mengandung hakikat
sebagai kebaikan yang banyak dan terus menerus
yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali
Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sedangkan Muhammad
bin Shalih Al-Utsaimin mengartikan berkah
sebagai kebaikan yang banyak dan tetap.

Dari makna-makna tersebut kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa berkah atau keberkahan adalah
suatu sifat yang di dalamnya mengandung
kebaikan. Berkah bisa berkaitan dengan perbuatan
atau ucapan, tempat, dan waktu. Sahur adalah
perkara yang setidaknya mengandung dua
keberkahan, yaitu keberkahan dalam hal
perbuatan dan keberkahan dalam hal waktu
pelaksanaan.

Berkaitan dengan keberkahan sahur sebagai
perbuatan, Rasulullah SAW bersabda: ”Dari Anas
bin Malik RA Rasulullah SAW bersabda, "Makan
sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu
terdapat keberkahan". Juga hadits dari Ahmad dan
An-Nasai, "Sesungguhnya dia (makan sahur)
adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian,
maka jangan kalian meninggalkannya."

Demikian utamanya sahur, sampai-sampai Rasul
menganjurkan kita untuk tidak meninggalkannya
walau hanya dengan seteguk air saja. "Jangan
kalian tinggalkan (sahur) walaupun salah seorang
dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena
Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-
orang yang bersahur".

Berkaitan dengan waktu, keberkahan sahur terjadi
karena dilakukan di sepertiga malam terakhir.
Inilah waktu mustajabnya doa; saat Allah
SWT "turun" ke bumi; dan saat orang-orang
beriman biasa melakukan Qiyamul Lail (QS Al-
Israa: 79). Bila dua keberkahan (perbuatan dan
waktu) menjadi satu, maka sangat rugi bila kita
mengabaikannya.

Lalu, bagaimana caranya agar sahur kita menjadi
maksimal? Intinya, kita harus menambah porsi
dzikir pada saat sahur dibanding porsi makanan
yang kita konsumsi. Karena itu, sangat dianjurkan
bila sebelum makan sahur kita berwudhu terlebih
dulu, shalat, berdoa, dan dzikir.

Bukankah Rasul pernah bersabda, "Rabb kita
Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke
langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
terakhir. Allah berfirman: ‘Siapa yang berdoa
kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa
yang minta kepada-Ku, Aku akan memberinya,
dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku
akan mengampuninya’." (HR Bukhari). Yang juga
harus diperhatikan, sahur bisa diakhirkan, jangan
berlebihan, dan setelah sahur jangan tidur lagi.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Cara Sehat Bersantap Sahur

Monday, September 12th, 2005

Cara Sehat Bersantap Sahur

MALAS rasanya, itu yang sering kita rasakan
pada saat kita akan melakukan santapan sahur.
Padahal begitu pentingnya sahur untuk kita yang
akan melakukan ibadah puasa. Bayangkan saja,
jarak waktu antara makan sahur dan buka puasa
selama hampir 14 jam kita akan mengosongkan
perut kita dari segala masukan makanan kepada
tubuh kita. Bahkan pada saat kita tidur, tubuh
tetap membutuhkan energi untuk aktivitas organ-
organnya. Mengosongkan perut dalam beberapa
jam, dapat menguras energi yang sangat banyak,
sehingga mengakibatkan badan menjadi lemas
dan stres juga dapat lebih mudah marah.

Pasalnya, pada saat kita berpuasa kadar gula
darah sedang menurun, sehingga tubuh terasa
lemas, konsentrasi terganggu. Anda pun terlihat
lemas dan lesu, apalah jadinya jika tubuh kita ini
tidak memerhatikan santapan sahur dengan baik,
ini akan merusak jaringan tubuh kita.

Melakukan sahur yang baik dan teratur, ternyata
terbukti juga bisa menjadi kunci yang sehat dan
baik, begitu juga bagi beberapa pengidap penyakit
seperti penyakit mag. Walaupun sahur begitu
penting, tetapi jenis makanannya pun ternyata
dapat menentukan fungsinya. Karena, meski
sahurnya teratur, tetapi badan tetap merasa lemah
dan lelah. Coba perhatikan kembali menu sahur
yang disajikan.

Santapan sahur yang terlalu banyak menyajikan
mengandung kalori dan lemak justru akan
mengakibatkan rasa lemas dan banyak
mengantuk, sehingga produktivitas sehari-hari
akan terganggu yang akhirnya etos kerja kita
menurun. Jika kita perbandingkan pengaruh antara
yang sahur banyak mengonsumsi lemak tinggi,
dan sahur yang banyak mengonsumsi karbohidrat,
kandungan kedua jenis sahur itu sama dan
seimbang dan nutrisinya sama.

Dapat dirasakan bagi mereka yang mengonsumsi
lemaknya tinggi, ternyata lebih mudah diserang
lapar, sehingga pertengahan hari pun mereka
sudah merasakan kelemahan, di antaranya lapar,
lemas, dan konsentrasi mulai pudar.

Sebaliknya kelompok tinggi karbohidrat akan lebih
bertahan lebih lama, dan kelompok ini lebih berhati-
hati dalam melakukan santapan sahurnya. Selain
itu, makanan yang banyak mengandung lemak
akan menghambat proses penyerapan makanan
yang baik di tubuh. Hal itu akan mengakibatkan
risiko beberapa penyakit.

Agar tubuh kita tetap bugar dalam menjalankan
ibadah puasa, harus diperhatikan juga mengenai
kebutuhan cairan dalam tubuh, di antaranya
dengan mengonsumsi air putih, karena air putih
mudah dan cepat diserap tubuh melalui pembuluh
darah, sehingga mempunyai manfaat membantu
mencegah terjadinya penggumpalan dalam darah.

Sedangkan untuk jenis cairan minuman lain perlu
melalui proses pencernaan terlebih dahulu.
Bahkan untuk proses di saluran pencernaan,
sering membutuhkan cairan yang berasal dari
aliran darah, tetapi bukan berarti menghapuskan
jenis minuman lain untuk tidak dikonsumsi.

Banyak para ahli menganjurkan agar santapan
sahur kita dilakukan tidak dengan jenis menu
makanan yang berat-berat, sehingga dapat
mengakibatkan seperti yang dijelaskan di atas.
Tak ada salahnya jika santapan sahur ini disajikan
dengan jenis makanan yang dapat mengundang
selera makan, sehingga tidak menimbulkan
kemalasan dalam mengonsumsinya.

Bagi sebagian orang yang mempunyai risiko
penyakit, seperti mengidap penyakit mag, jantung,
serta jenis lain. Dalam menghadapi santapan
sahur ini, disarankan untuk berkonsultasi dengan
ahli gizi (nutrisionis) agar terjaga kondisi tubuhnya
dan tetap bugar dalam menjalankan ibadah puasa.

Jadi sesuaikan kembali menu santapan sahur
Anda dan kebutuhan nutrisi tubuh dengan baik,
agar dalam menunaikan ibadah puasa ini dapat
berjalan dengan lancar, sehingga tidak
mengganggu aktivitas sehari-hari, sampai azan
magrib tiba tanda untuk berbuka puasa.

Antara Puasa dan Takwa

Monday, September 12th, 2005

Antara Puasa dan Takwa

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al Baqarah : 183).

Dari firman Allah SWT di atas sering sekali kita
mendengar penjelasan dari ceramah-ceramah atau
pengajian bulan Ramadlan ini, bahwa salah satu
tujuan disyariatkan dan diwajibkannya puasa bagi
umat Islam adalah agar mereka bertakwa kepada
Allah SWT. Kata-kata takwa memang sangat
sering dan mudah dikatakan sekaligus sulit dan
jarang sekali direalisasikan secara hakiki dalam
kehidupan sehari-hari, bahkan di bulan yang penuh
berkah ini, terbukti dengan masih banyaknya
kejahatan yang terjadi, seakan tidak bisa terhenti.

Nilai atau kadar takwa manusia memang berbeda,
oleh sebab itulah Allah SWT
berfirman; "Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
takwa diantara kamu…" (QS. Al Hujurt : 13).
Dalam ayat ini Allah SWT seakan berkata; bahwa
kadar takwa kalian itu bertingkat-tingkat dan
berkelas-kelas, sedangkan yang paling mulia
menurutku adalah orang yang tingkat
ketakwaannya paling tinggi.

Muslim yang berpuasa itu sendiri sebenarnya
sudah berada dalam kelas atau tingkat ketakwaan
tertentu, sebab orang yang sama sekali tidak
mempunyai perasaan takwa tentu tidak akan mau
menahan lapar dan haus akibat berpuasa. Namun,
perasaan takwa yang menjadi tujuan puasa dalam
ayat di atas bukanlah sekedar berupa keinginan
untuk berpuasa disebabkan saya adalah seorang
muslim, maka sudah sepantasnya saya ikut-
ikutan berpuasa, takwa yang dimaksudkan juga
bukan perasaan yang mendorong kita untuk tidak
makan dan minum sampai matahari tenggelam
tanpa membawa sedikitpun perubahan ke arah
yang lebih baik, bukan itu.

Ketakwaan yang ingin diajarkan Allah SWT melalui
kewajiban berpuasa adalah peningkatan kadar
takut, tunduk, dan kesadaran yang semakin hari
semakin kuat dirasakan, ketakwaan itu adalah
keberhasilan seseorang naik kelas yang lebih
tinggi dalam menjalankan perintah Allah SWT dan
menjahui laranganNya. Oleh sebab itu, puasa
yang tidak bisa meningkatkan kadar ketakwaan
adalah puasa yang belum bisa menggapi hakikat
tujuan diwajibkannya puasa itu sendiri.

Bentuk takwa yang ingin digapai dengan berpuasa
bermacam-macam ketakwaan yang ingin dibentuk
Allah SWT melalui puasa bagi orang kaya adalah
agar mereka pernah merasakan penderitaan kaum
miskin sehingga menjadi lebih santun kepada
mereka, bagi orang miskin, puasa adalah
pembelajaran untuk tidak menjadikan dunia
sebagai satu-satunya tujuan hidup, bagi para
pejabat, puasa adalah menahan diri agar benar-
benar mengemban amanat rakyat selama mereka
menjabat, dan begitu seterusnya bagi yang lain.

Dengan puasa ini marilah kita selalu barusaha
meningkatkan ketakwaan kita, hari ini harus lebih
baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih
baik dari hari ini. Marilah kita lewati sepuluh hari
pertama bulan Ramadlan ini dengan membawa
rahmat Allah SWT untuk menyambut sepuluh hari
yang kedua dengan harapan bisa meraih magfirah
(ampunan)Nya, dan akhirnya, semoga kita bisa
menyempurnakan sepuluh hari terakhir dengan
selalu berharap mudah-mudahan pada hari raya
nanti kita termasuk orang-orang yang
mendapat ‘grasi’ Allah SWT, terbebas dari api
neraka. Amn.

Amal-amal Mulia di Bulan Ramadhan

Monday, September 12th, 2005

Amal-amal Mulia di Bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan mulia dan bulan
pengampunan. Di bawah ini ada 12 amalan mulia
yang bisa dikerjakan di bulan Ramadhan yang kini
tengah kita jalani.

Rasulullah SAW bersabda; "Apabila orang-orang
mengetahui nilai lebih Ramadhan, mereka akan
berharap agar semua bulan dijadikan sebagai
bulan Ramadhan." (HR. Ibnu Huzaimah).

Diantara amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik itu
amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah
adalah sebagai berikut:

1. Shiyam (puasa)
Amaliyah terpenting selama bulan
Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa),
sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada
surat al Baqarah : 183-187. Dan diantara amaliyah
shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah
ialah:
a. Berwawasan yang benar tentang puasa
dengan mengetahui dan menjaga rambu-
rambunya. "Barangsiapa berpuasa Ramadhan
kemudian mengetahui rambu-rambunya dan
memperhatikan apa yang semestinya
diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur
dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya."
(HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).
b. Tidak meninggalkan shiyam, walaupun
sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang
dibenarkan oleh syari’at Islam. Rasulullah SAW
bersabda bahwa : "Barangsiapa tidak puasa pada
bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan
rukhshoh atau sakit, hal itu (merupakan dosa
besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya
ia berpuasa selama hidup." (HR. At Turmudzi).
c. Menjauhi hal-hal yang dapat
mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai
shiyam. Rasulullah SAW pernah bersabda:
Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar
meninggalkan makan dan minum, melainkan
meninggalkan pekerti sia-sia (tidak bernilai) dan
kata-kata bohong." (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu
Khuzaimah).
d. Bersungguh-sungguh melakukan
shiyam dengan menepati aturan-aturannya.
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa berpuasa
Ramadhan dengan penuh Iman dan kesungguhan,
maka akan diampunkani dosa-dosa yang pernah
dilakukan." (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud).
e. Bersahur, makanan yang berkah (al
ghoda’ al mubarak). Dalam hal ini Rasulullah
pernah bersabda bahwa: "Makanan sahur
semuanya bernilai berkah, maka jangan anda
tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air.
Allah dan para Malaikat mengucapkan salam
kepada orang-orang yang makan sahur." (HR.
Ahmad). Dan disunnahkan mengakhirkan waktu
makan sahur.
f. Ifthar, berbuka puasa. Rasululah pernah
menyampaikan bahwa salah satu indikasi
kebaikan umat manakala mereka mengikuti
sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka
puasa) walau dengan air saja. Rasulullah SAW
bersabda bahwa: "Sesungguhnya termasuk hamba
Allah yang paling dicintai oleh-Nya, ialah mereka
yang bersegera berbuka puasa." (HR. Ahmad dan
Tirmidzi).
g. Berdo’a. Sesudah menyelesaikan
ibadah puasa dengan ber-ifthar, sebagai wujud
syukur kepada Allah, Rasulullah Saw berdo’a.

2. Tilawah (membaca) al Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya al
Qur’an. (QS. Al Baqarah: 185). Pada bulan ini
Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al
Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR. Bukhori).
Imam az Zuhri pernah berkata : "Apabila datang
Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain
shiyam) ialah membaca al Qur’an". Hal ini tentu
saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid
(kaidah membaca al Qur’an) dan esensi dasar
diturunkannya al Qur’an untuk ditadabburi,
dipahami dan diamalkan. (QS. Shad: 29).

3. Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan
shodaqoh lainnya).
Salah satu amaliyah Ramadhan
Rasulullah ialah memberikan ifthar (santapan
berbuka puasa) kepada orang-orang yang
berpuasa. Seperti beliau sabdakan: "Barangsiapa
yang memberi ifthar kepada orang-orang yang
berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala
orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala
orang yang berpuasa tersebut." (HR. Turmudzi dan
an Nasa’i).
Memberi makan dan sedekah

Kesempurnaan Puasa

Monday, September 12th, 2005

Kesempurnaan Puasa

Langkah-langkah yang dikerjakan Rasulullah
dalam menyikapi ibadah puasa, antara lain:

1. Memantapkan Niat
Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa yang
tidak menetapkan akan berpuasa sebelum fajar,
maka tiada sah puasanya." Hadits ini diriwayatkan
oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah.

2. Melaksanakan Makan Sahur
Dari Anas bin Malik r.a. ia berkata: "Telah
bersabda Rasulullah SAW., ‘Sahurlah kalian,
maka sesungguhnya dalam sahur itu ada
berkahnya. (HR Bukhari, Muslim dari Anas bin
Malik r.a.). Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, yang
dimaksud dengan berkah (barakah) ialah ganjaran
dan pahala. Dikatakan sahur itu mengandung
barakah, karena sahur menguatkan dan
menambah semangat dalam berpuasa serta dapat
membantu meringankan beban beratnya.

3. Imsak Rasulullah
Telah bersabda Rasulullah
SAW: "Apabila salah seorang di antara kalian
mendengar adzan subuh padahal bejana masih
berada di tangannya, maka janganlah ia
meletakkan (bejana itu) sampai ia menyelesaikan
kebutuhannya itu." (HR Abu Dawud, Ibnu Jarir,
Abu Muhammad Al Jauhari, Al Hakim, Baihaqi dan
Ahmad dari Abu Hurairah).
Hadits di atas menegaskan bahwa bila
seseorang yang sedang sahur mendengar adzan
subuh, maka ia dibolehkan meneruskan sahurnya.
Hal ini tentunya ditujukan untuk orang yang tidak
sengaja menunggu atau mengetahui bahwa adzan
subuh segera akan tiba.

4. Mempercepat Berbuka Apabila Telah Tiba
Waktunya
Sahl bin Sa’ad berkata: Sesungguhnya
Rasulullah SAW bersabda,"Manusia tidak henti-
hentinya mendapat kebaikan selama mereka
mempercepat berbuka puasa." (HR Bukhari dan
Muslim).
Abu Hurairah r.a. berkata: Telah bersabda
Rasulullah SAW: Telah berfirman Allah Yang
Mahamulia dan Maha Agung: "Hamba-hamba Ku
yang lebih aku cintai ialah mereka yang paling
segera berbukanya." (HR Tirmidzi dari Abu
Hurairah).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Daud dilukiskan sebab dan rahasia menyegerakan
puasa: "Agama akan senantiasa tampak syi’arnya
dengan nyata selama orang Islam berbuka puasa
dengan segera (tepat pada waktunya), sebab
orang-orang Yahudi dan Nasrani
melambatkannya." (HR Abu Daud yang bersumber
dari Abu Hurairah).
Pada waktu berbuka puasa dianjurkan
untuk membaca doa sebagai berikut: "Telah hilang
dahaga, dan telah basah (segar) urat, dan telah
tetap ganjaran. Insya Allah." (HR Abu Daud,
nasa’i, dan Hakim dari Ibnu Umar r.a.).
Berbuka yang lebih baik ialah berbuka
dengan buah-buahan manis seperti kurma, pisang,
mangga, rambutan, dan sebagainya. Dalam
sebuah hadits disebutkan, Dari Sulaiman bin Amir
Ad-Dhabbi r.a. dari Nabi SAW, beliau
bersabda, "Apabila seseorang di antara kamu
berbuka puasa, berbukalah dengan kurma. Apabila
tidak ada, berbukalah dengan air, karena air itu
suci." (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu
Majah, dan Ahmad).

5. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Rasulullah SAW bersabda: "Orang-orang
yang berkumpul di masjid dan membaca Al-
Qur’an, maka kepada mereka Allah akan
menurunkan ketenangan batin dan limpahan
rahmat." (HR Muslim).
Namun, membaca dalam konteks hadits
di atas, tidak perlu diartikan secara harfiah.
Ketenangan batin dan limpahan rahmat akan
mungkin lebih bisa dicapai bila tadarusan diartikan
dengan mempelajari, menelaah, dan mengamalkan
Al-Qur’an. Sudah saatnya kita tidak lagi
mengandalkan "pengaruh psikologi magnetis"
dalam membaca Al-Qur’an (tanpa mengetahui
maknanya). Karena bagi kita sudah saatnya untuk
mendapatkan arti limpahan rahmat tersebut dari
telaah kandungan isi Al-Qur’an.

6. Memperbanyak Sedekah
"Sedekah yang paling utama adalah
sedekah pada bulan Ramadhan." (HR Tirmidzi).
Bersedekah bukan hanya memberi uang, tetapi
termasuk di dalamnya memberi pertolongan,
mengajak berbuka puasa kepada fakir miskin,
memberi perhatian, bahkan memberi seulas
senyum pun sudah termasuk suatu sedekah.
Dapat dibayangkan jika
konsep "